The Diary Game, July 22, 2026 | Time will not penalize those who work sincerely.

Hᴇʟʟᴏ ꜱᴏʙᴀᴛ ᴋʀᴇᴀᴛɪꜰ...
𝗠ustahil mengharap pagi tidak datang lebih awal hanya untuk mencukupi kuota tidurku yang kurang. Kelopak mata sepertinya masih bengkak disaat aku mulai menghidupkan sepeda motor hendak membeli lontong sayur. Itu sarapan pengganti untuk istriku di rumah yang telah aku habiskan.
Satu porsinya bernilai sekitar 10 Steem atau 7.000 IDR, mungkin saja ukuran "harga" dianggap jaminan lezat tidaknya suatu makanan. Penjual lontong kian bertabur di kota Lhokseumawe apalagi di pusat-pusat keramaian. Tapi tetap saja, kita sering terjebak karena harga dan ukuran jumlah pembeli.
Seusai menyerahkan lontong sayur ke tangan istriku, lantas aku menuju ke kantor. Tidak ada akses pintas yang lebih dekat kecuali jalan yang selalu berpapasan dengan warung Pyiramid Kuphi. Alasan ini pula aku sering singgah disana untuk membeli satu porsi dalam bungkusan plastik dan membawanya ke kantor.
Bukan saja kurang beristirahat, tapi lelah yang belum pulih selalu dibuntuti oleh daftar aktifitas baru, meskipun pekerjaan lama masih belum selesai. Bukan nasib ku yang buruk! tapi beberapa dari mereka yang ingin selalu "muncul" tanpa sadar telah mengurungku dalam lingkaran aktivitas yang membosankan! juga menambah beban kerjaku selama sebulan lebih yang seharusnya telah selesai Minggu lalu. Mudahan saja mereka tidak dengan sadar telah mengobrak abrik semangatku hingga memaksaku memulai semuanya dari awal.
Apakah seperti Sisyphus? aku dipaksa mendorong batu besar ke atas bukit hanya untuk mereka nikmati batu itu menggelinding kembali ke bawah? Entah siapa yang sial!
![]() | ![]() |
|---|
Aku tidak akan menulis kisah yang sama! tapi setiap keputusan menyangkut kepentingan publik seharusnya diutamakan tanpa mempertimbangkan gengsi atau ketakutan labil. Dalam situasi terpuruk dari segi ekonomi, kesehatan bahkan kekurangan sarana lainnya pasca bencana banjir di provinsi Aceh pada akhir November 2025 lalu, masyarakat mulai menuntut kepercayaan yang telah mereka berikan pada semua pemangku jabatan untuk berjuang sebagaimana mereka pernah meminta diperjuangkan untuk mendapatkan posisi sebagai pejabat publik.
Seakan memperlengkap penderitaan, kepayahan mendapatkan BBM pun menjadi bagian penting yang harus dipertanyakan oleh publik. 285 triliun bukan angka kecil dalam rupiah jika itu benar terbukti dalam kasus korupsi minyak mentah Pertamina. Uniknya, selalu ada kata "estimasi" mengiringi pada setiap kasus korupsi seakan akan sengaja mengelabui konsumsi publik.

Di bawah terik dan udara panas aku terpaksa bersabar mengantri selama tiga puluh menit hanya untuk mengisi 3 liter bahan bakar dalam tangki sepeda motorku. Selanjutnya pada pukul 11.00 wib aku pulang kerumah untuk menjemput putriku dan kemudian mengantarnya ke sekolah. Oh ya, Putriku harus mengikuti perubahan jam belajar karena beberapa ruang kelas sedang diperbaiki (rehabilitasi ringan).

Tentu saja! Perubahan jam belajar putriku yang sebelumnya dimulai pukul 07.30 tidak ideal bagiku yang sedang berjuang mempercepat progres pekerjaanku di kantor. Apalagi aku harus menjemput putriku pulang sekolah pada pukul 15.30 wib.
...Aku tiba kembali di kantor dan menempati tempat yang sama yakni depan labtob untuk melanjutkan pekerjaanku yang tertunda. Hanya separuh dari 60 menit jatah istirahat kantor aku gunakan untuk makan siang dan shalat dhuhur, selebihnya untuk menyelesaikan pekerjaanku sebelum jam pulang sekolah putriku tiba.
![]() | ![]() |
|---|---|
Hampir saban hari aku menghadapi insiden kecil. Ya, aku terlambat tiba di sekolah untuk menjemput, lantas putriku kesal dan menangis depan gerbang. Aku segera membawanya pulang ke rumah karena putriku tidak berani bertingkah tantrum dihadapan ibunya.
Kucing-kucing kesayanganku tampaknya memahami cuaca terik di luar sana hingga mereka memilih bersantai dan merebahkan tubuhnya dalam kandang yang nyaman. ..Selamat beristirahat sayang.. aku harus kembali ke kantor! ucapku pelan untuk hewan peliharaanku seraya menghidupkan kembali mesin sepeda motorku yang terparkir di teras.

Azan magrib hampir tiba, aku masih berupaya menyelesaikan tugasku. Mungkin tidak akan rampung! namun paling tidak, sisanya tidak akan menyita lebih banyak waktuku esok hari sebelum mencetaknya.
Aku harus adil untuk menyelesaikan pekerjaan lainnya yang menjadi tupoksi prioritasku. Terutama menyiapkan bahan-bahan laporan kegiatan Zona Nilai Tanah seperti data administrasi dan hasil survey lapangan yang telah dilakukan oleh tim identifikasi beberapa waktu lalu.
....Aku kembali ke rumah disaat toa-toa di sejumlah tempat ibadah mulai mengumandangkan azan magrib..🙄
![]() | ![]() |
|---|---|
Aku tidak dibayar karena menonton kreatifitas pengguna facebook atau haha..hihi dengan media sosial lainnya, tapi aku pasti menerima imbalan atas produktifitasku di platform Steemit. Ini alasan utama kenapa setiap singgah diwarung kopi aku jarang melampiaskan keinginan mata selain untuk membaca dan menulis konten.

Sekian... Terima kasih banyak atas kunjungan dan mungkin anda membacanya..
salam,
@ridwant








https://x.com/i/status/2080691007985947016
Upvoted! Thank you for supporting witness @jswit.
Huge thanks @ngoenyi 🙏🙏
Thank you brother @mahadisalim 🙏