Budaya Aceh dalam Naskah Lakon: IKRAR WASE GLEE | Bagian-2 (Tamat)

Foto ilustrasi hutan di Lhokseumawe.
BABAK II
DI DALAM KEGELAPAN YANG PEKAT. SUARA HUJAN DERAS. PETIR. GEMURUH AIR. TIDAK ADA MUSIK. LALU LAMPU MENYALA PERLAHAN. DIATAS PANGGUNG DAUN-DAUN DAN RANTING POHON BERSERAKAN. GENTENG-GENTENG RUMAH BERSERAKAN DI LANTAI. SATU BATANG KAYU TUMBANG TERBARING DI SISI PANGGUNG.
PARA WARGA BERDIRI DENGAN PAKAIAN BASAH. SEBAGIAN MEMEGANG EMBER. SEBAGIAN MEMBAWA KARUNG BERISI BARANG YANG SEMPAT DISELAMATKAN. PARA IBU MENGGENDONG ANAKNYA.
DI TENGAH KERUMUNAN WARGA, TERDENGAR SUARA ORANG-ORANG SALING MENYALAHKAN.
ARIF:
"Kalau sejak awal hutan tidak dibuka, air tidak mungkin datang seperti ini!"
IYAH:
"Bukan hanya hutan! Ada yang membawa mereka ke kampung kita!"
JALAL:
"Ada yang menerima uang mereka!"
SUARA WARGA SALING BERSAUTAN.
"Siapa?"
"Siapa orangnya?"
"Siapa yang menjual gampong kita?”
TIBA-TIBA BAROH MUNCUL DARI SUDUT KIRI PANGGUNG. PAKAIANNYA BASAH. KOPIAH HITAMNYA HILANG. WAJAHNYA PENUH LUKA DAN LUMPUR. SEMUA WARGA LANGSUNG MENATAPNYA.
ARIF:
"Itu dia!"
IYAH:
"Baroh!"
JALAL
"Dia yang membawa orang-orang bersafari itu!"
SEMUA WARGA MENGEPUNG BAROH. MENATAP KESAL KEARAH BAROH SEOLAH SIAP MENERKAM KAPAN SAJA.
BAROH (TERTUNDUK DALAM):
"Benar...Loen yang pertama kali bertemu mereka, membawa mereka ke gampong kita. Loen percaya mereka. Mereka menjanjikan jalan. Mereka menjanjikan sekolah. Mereka menjanjikan pekerjaan. Loen pikir Loen sedang menolong gampong ini."
WARGA MULAI BERTERIAK.
"Pembohong!"
"Pengkhianat!"
"Gata jual hutan kita!"
BAROH TIDAK MEMBELA DIRI. AIR MATANYA MULAI JATUH.
BAROH:
" Loen memang pantas dibenci. Tapi.. Loen bukan orang yang menjual izin penebangan."
SEMUA TERDIAM.
JALAL (DENGAN NADA TINGGI SEOLAH TAK PERCAYA:
"Lalu siapa?"
BAROH MENGANGKAT WAJAHNYA. MENATAP KE ARAH BELAKANG PANGGUNG. SAAT ITULAH RAJAH MASUK. PAKAIANNYA TAK LAGI TERLIHAT PUTIH, PENUH LUMPUR DARI TANAH YANG MARAH DAN ROBEK TERKENA BATANG BATANG POHON TUMBANG. WAJAHNYA DIPENUHI PENYESALAN. SEMUA WARGA MEMBELAH MEMBERI JALAN. KEHENINGAN MENYELIMUTI PANGGUNG.
RAJAH BERDIRI TEPAT DI HADAPAN BAROH. MEREKA SALING MENATAP.
BAROH:
"Katakan kepada mereka."
RAJAH (MEMEJAMKAN MATA. NAPASNYA BERAT):
"Baroh tidak berbohong, ia memang mengenalkan mereka. Tetapi, loenlah yang menunjukkan jalan masuk ke hutan."
ARIF:
"Jadi benar..."
IYAH:
"Gata!..."
RAJAH:
"Loen menerima uang mereka. Bukan karena Loen membenci hutan. Loen ingin ibu loen bisa berobat. Loen ingin pemuda gampong punya pekerjaan. Loen pikir hanya beberapa pohon yang ditebang. Ternyata yang mereka tebang adalah masa depan kita."
KEHENINGAN. PETIR MENYAMBAR. BAROH MENATAP RAJAH. BUKAN DENGAN MARAH.
MELAINKAN DENGAN KESEDIHAN.
BAROH:
"Kenapa droe tidak pernah bercerita?"
RAJAH:
"Karena loen malu. Loen takut dianggap pengkhianat. Ternyata diam membuat dosa loen semakin besar."
KEUJRUN GLEE MUNCUL DARI KIRI PANGGUNG. SELURUH WARGA LANGSUNG MEMBERI JALAN. LALU KEUJRUN BERDIRI DI TENGAH BAROH DAN RAJAH.
KEUJRUN GLEE:
"Berhentilah. Musuh kita bukan lagi Rajah. Bukan pula Baroh. Mereka telah menerima hukuman paling berat. Mereka akan hidup dengan penyesalan. Keserakahan selalu datang memakai wajah harapan. Kadang ia membawa uang. Kadang membawa pembangunan. Kadang membawa janji kemakmuran. Tetapi ia selalu meminta satu harga. Alam."
KEUJRUN MENGAMBIL SEGENGGAM TANAH YANG BASAH DENGAN TANGAN KANANNYA SEMENTARA TANGAN KIRI MASIH MEMEGANG TONGKAT KAYU MILIKNYA. DITUNJUKKANNYA KEPADA SELURUH WARGA.
KEUJRUN GLEE:
"Kalau tanah ini masih mau menerima air mata kita, maka ia juga akan menerima ikhtiar kita. Luka hutan tidak akan sembuh oleh penyesalan. Tetapi oleh tangan-tangan yang mau memperbaikinya."
DARI KANAN PANGGUNG. MASUK BULEUN. SEORANG GADIS BERKERUDUNG HIJAU MUDA DENGAN PAKAIAN KURUNG. DENGAN PENUH KEYAKINAN IA MENGGENGGAM SEBUAH POLIBET HITAM DENGAN KEDUA TANGANNYA YANG BERISI BIBIT POHON DENGAN TIGA HELAI DAUN. IA MENCIUM LEMBUT DAUN POHON ITU.
BULEUN (MENATAP BIBIT POHON DITANGANNYA):
“Masih ada yang bisa kita selamatkan.”
“Selama masih ada tanah...”
“selama masih ada air...”
“selama kita mau berubah...”
“hutan masih punya harapan.”
"Keujrun..."
" Loen datang bukan membawa kabar baik, tetapi juga bukan membawa keputusasaan. Hutan memang terluka. Namun selama masih ada manusia yang mau memperbaiki kesalahannya, alam selalu memberi kesempatan untuk pulih."
BULEUN MENGHAMPIRI RAJAH, MENYERAHKAN SATU BIBIT POHON ITU KEPADA RAJAH. LALU RAJAH MENERIMANYA DENGAN KEDUA TANGANNYA.
"Mulailah dari satu pohon. Karena satu pohon yang ditanam dengan kesadaran lebih berharga daripada seribu pohon yang ditebang demi keserakahan."
KEUJRUN GLEE:
"Endatu kita mewariskan Wase Glee bukan untuk menghalangi manusia mencari nafkah. Mereka hanya ingin mengajarkan bahwa mengambil dari alam harus disertai dengan menjaga alam. Sebab manusia tidak hidup di atas tanah ini sendirian. Hari ini kita tidak sedang menyelamatkan hutan. Sesungguhnya...kita sedang menyelamatkan diri kita sendiri."
KEUJRUN MENGHENTAKKAN TONGKATNYA. SEMUA WARGA BERKUMPUL. MASING-MASING MEMEGANG SATU BIBIT.
KEUJRUN GLEE:
"Ikutilah kata-kata Loen. Hari ini kita mengingat kembali janji yang hampir kita lupakan. Janji yang diwariskan oleh para pawang hutan sebelum kita."
SELURUH WARGA:
Kami bersumpah...
menjaga hutan sebagaimana hutan menjaga kami.
Kami bersumpah...
mengambil secukupnya...
bukan serakahnya.
Kami bersumpah...
tidak mewariskan tanah yang rusak...
kepada anak-anak kami.
Kami bersumpah...
selama napas masih ada...
pohon-pohon tetap tumbuh
hutan akan tetap hidup.
LAMPU MENYALA MENERANGI SEISI PANGGUNG. PERLAHAN TERDENGAR KEMBALI KICAU BURUNG. CAHAYA KUNING BERUBAH MENJADI HIJAU HANGAT. KEUJRUN MENATAP KE ARAH HUTAN DENGAN SENYUM HARU.
KEUJRUN GLEE:
(TERSENYUM KECIL)
"Dengarkan..."
"Burung-burung itu kembali bersenandung."
"Mungkin... hutan telah mendengar sumpah kita."
SELURUH PEMAIN MENGANGKAT BIBIT POHON SETINGGI DADA. LAMPU PERLAHAN REDUP.
TIRAI MENUTUP.
TAMAT.
Catatan saya selaku pembimbing:
- Droe dan droeneuh itu beda maknanya. Dalam kalimat di atas, lebih cocok droeneuh.
- Kata gampong, tidak perlu cetak miring semuanya, cukup satu kali saja.
- Masih ada typo, dan kesalahan menulis di yang disertai tempat. Perhatikan tata cara penulisan huruf kapital.
- Konsisten menulis loen atau lon? Kata yang benar itu, lon.
- Perkuat lagi konflik sampai mengkristal. Namun, endingnya jangan sampai mudah ditebak.
- Deskripsi panggung lebih rinci sehingga tergambar dalam kepala juri.

Thank you for sharing on steem! I'm witness fuli, and I've given you a free upvote. If you'd like to support me, please consider voting at https://steemitwallet.com/~witnesses 🌟