The Diarygame 17-7-2026 Pergi Ke Pernikahan Guru Favorit SMA Saya

in Hot News Community10 days ago

1000627304.jpg

foto bareng di KUA

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Halo teman-teman semuanya, senang sekali bisa kembali menyapa Anda di komunitas luar biasa ini. Saya doakan kita semua selalu dalam keadaan sehat walafiat dan terus konsisten merajut cerita-cerita terbaik dalam perjalanan hidup kita.

Hari ini saya ingin membagikan kisah keseharian saya yang berjalan super padat dengan jadwal mengajar les yang seolah tidak ada habisnya. Namun, ada satu hal yang sangat istimewa pada hari ini. Saya bahkan rela mengambil cuti dari kepanitiaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah atau MPLS di sekolah tempat saya mengabdi demi menghadiri acara sakral pernikahan guru favorit saya semasa SMA dahulu, yaitu Ibu Ipit.

Alhamdulillah, beliau kini telah menemukan belahan jiwanya. Hal yang unik dan menarik adalah ternyata jodoh beliau tidaklah berada di tempat yang jauh dari kediaman asalnya. Padahal, selama ini beliau dikenal sudah berkelana sangat jauh menempuh berbagai perjalanan hidup, tetapi takdir justru mempertemukannya dengan sosok yang secara jarak sangat dekat. Sungguh sebuah rahasia jodoh yang luar biasa dan patut disyukuri.

Kesibukan saya sudah dimulai sejak pagi hari. Selepas bangun tidur, saya langsung bergegas membereskan rumah. Kebetulan hari ini saya sedang berhalangan sehingga belum bisa melaksanakan ibadah shalat. Pagi itu suasananya cukup riweuh dan penuh kepanikan kecil karena saya harus memilih pakaian yang sesuai dengan tema acara. Tema pakaian hari ini disepakati bernuansa merah muda. Setelah membongkar isi lemari, akhirnya pilihan saya jatuh pada baju berwarna hitam yang dipadukan dengan jilbab berwarna merah muda.

Setelah siap dengan riasan wajah yang tetap harus terlihat cantik dan menawan, saya bersiap-siap untuk segera berangkat. Di saat yang bersamaan, ibu saya sedang mengantarkan adik ke sekolah terlebih dahulu. Karena sekolah tersebut terletak tepat di belakang rumah kami, jaraknya sangat dekat sehingga ibu bisa kembali dengan cepat. Begitu persiapan selesai, saya segera mengeluarkan sepeda motor dan langsung memacu kendaraan menuju ke daerah Matangkuli. Perjalanan ke sana memakan waktu sekitar tiga puluh lima hingga empat puluh menit jika berkendara dengan kecepatan tinggi, mengingat kondisi jalannya saat itu sedang dalam masa perbaikan sehingga menuntut konsentrasi lebih.

Sesampainya di Matangkuli, tujuan pertama saya adalah menjemput sahabat karib saya yang bernama Riska. Ketika tiba di depan rumahnya, saya sempat memanggilnya berulang kali dari luar. Cukup lama saya menanti dalam ketidakpastian sampai akhirnya beberapa menit kemudian Riska keluar dengan pakaian rapi dan siap berangkat. Kami kemudian bergegas menuju ke pusat area Matangkuli untuk mencari lokasi Kantor Urusan Agama atau KUA tempat prosesi akad nikah berlangsung. Berdasarkan informasi awal yang kami terima, KUA berada di sekitar area pasar tersebut.

Namun ketika kami tiba di lokasi pertama, suasananya sangat sepi dan kosong tanpa ada aktivitas orang sama sekali. Kami sempat kebingungan karena jam baru menunjukkan pukul sembilan pagi, waktu yang seharusnya masih aktif untuk pelayanan publik. Karena belum membuahkan hasil, kami memutuskan untuk pergi membeli beberapa keperluan terlebih dahulu seperti gula, roti, dan susu sambil berkeliling sejenak menenangkan diri.

Setelah itu, kami mencoba mendatangi rumah Ibu Ipit secara langsung. Di sana sudah terlihat adanya aktivitas persiapan jamuan makan bagi para tamu, namun sosok Ibu Ipit sendiri belum terlihat di tempat pelaminan. Warga di sekitar mengabarkan bahwa beliau masih berada di kantor KUA untuk melangsungkan prosesi. Kami pun menyadari sebuah kekeliruan bahwa Riska, yang sebenarnya merupakan anak asli daerah Matangkuli, ternyata tidak mengetahui keberadaan kantor KUA yang lain di wilayah tersebut. Setelah bertanya ke beberapa warga sekitar dan mencari petunjuk arah yang tepat, kami akhirnya bergerak cepat menuju lokasi KUA yang sebenarnya.

1000627303.jpg

nikah gratis wkwkkw

Setibanya di kantor KUA kedua tersebut, suasana ternyata sudah sangat ramai oleh para hadirin dan keluarga besar. Hari itu ada dua pasangan yang melangsungkan pernikahan secara bergantian, salah satunya adalah Ibu Ipit. Sayangnya, prosesi akad nikah yang sakral sudah selesai dilaksanakan ketika kami menginjakkan kaki di sana, dan acara sudah memasuki sesi pembacaan doa bersama.

Di sela-sela menghadiri acara, saya baru mengetahui sebuah informasi menarik bahwa melangsungkan pernikahan di kantor KUA ternyata tidak dipungut biaya sama sekali alias gratis. Sementara itu, jika pasangan memilih untuk mengadakan prosesi pernikahan di masjid atau di rumah pribadi, akan dikenakan biaya administrasi resmi sebesar enam ratus ribu rupiah. Sungguh sebuah kebijakan pemerintah yang sangat memudahkan masyarakat.

Tidak ingin melewatkan momen berharga, kami langsung ikut serta dalam sesi foto bersama sepasang pengantin baru tersebut. Rasa syukur yang mendalam membubung melihat Ibu Ipit kini telah resmi bersanding dengan pasangan hidup yang telah lama dinantikannya. Doa terbaik kami panjatkan secara tulus semoga beliau dan suami dapat membangun keluarga yang sakinah, mawaddah, warahmah, serta senantiasa diliputi kebahagiaan yang hakiki di dunia maupun di akhirat kelak.
1000627305.jpg

enak polll

Setelah sesi foto selesai, kami kembali ke rumah Ibu Ipit untuk menikmati jamuan makanan yang telah disediakan bagi para undangan. Hidangan masakan Ibu Ipit memang sudah terkenal sejak dahulu dan tidak perlu diragukan lagi kelezatannya. Semua menu yang disajikan terasa sangat nikmat di lidah, mulai dari sayur-sayuran segar, olahan ayam, daging bumbu melimpah, kari kambing yang kaya rempah, hingga hidangan penutup berupa es durian yang sangat menyegarkan.

Hidangan yang disiapkan benar-benar lengkap dan memuaskan selera kami yang sudah lapar sejak pagi. Setelah selesai menyantap hidangan dan kembali berpamitan dengan sang guru, saya memutuskan untuk segera pulang karena hari sudah beranjak siang dan agenda lain sudah menanti.

1000627306.jpg

happy wedding bu ipit

Tepat jam dua belas siang, saya langsung bertolak kembali ke rumah. Setibanya di rumah, rasa lelah yang teramat sangat akibat perjalanan dan cuaca panas membuat saya memutuskan untuk beristirahat sejenak. Tanpa disadari, rasa kantuk yang berat membuat saya tertidur sangat pulas hingga hari sudah menjelang sore hari.

Jadwal padat saya sebagai seorang pengajar pun kembali menanti di depan mata. Sore itu, murid les membaca saya yang bernama Nia Khalisa sudah datang tepat waktu. Nia merupakan murid baru yang posisinya belum bisa membaca sama sekali. Selama satu setengah jam penuh, dengan segala ketelatenan dan kesabaran, saya memberikan pengajaran dasar mengenai pengenalan huruf vokal dan huruf konsonan agar ia bisa segera mengeja dengan baik.

1000627307.jpg

ngajar les alisya

Setelah kelas membaca bersama Nia selesai, saya bergegas menuju kamar mandi untuk mandi wajib atau mandi haid karena masa halangan saya telah resmi selesai pada sore itu. Selesai membersihkan diri dan menyucikan tubuh, saya langsung melaksanakan ibadah shalat magrib dengan khusyuk. Begitu waktu magrib berlalu, pertempuran mengajar yang sesungguhnya pun resmi dimulai. Saya harus mengajar beberapa sesi les anak-anak secara marathon tanpa jeda yang berarti.

1000627309.jpg

najar les farel

Sesi pertama malam dimulai bersama Farel yang mengambil les mata pelajaran bahasa Inggris. Pembelajaran berlangsung selama kurang lebih satu setengah jam dengan fokus materi pengenalan berbagai macam warna dalam bahasa Inggris. Farel mengikuti proses belajar dengan cukup antusias dan mampu menyerap materi dengan baik dari awal hingga akhir sesi. Sesi berikutnya langsung dilanjutkan dengan mengajar Rasya, yang merupakan anak dari sepupu saya sendiri atau bisa dibilang sebagai keponakan. Rasya mengambil les membaca.

1000627310.jpg

ngajar les rasya

Mengajar Rasya membutuhkan usaha, energi, dan strategi yang jauh lebih besar karena di usianya yang masih sangat muda, ia sangat mudah terdistrak dan teralihkan fokusnya oleh hal-hal kecil di sekitarnya. Situasi ini menuntut saya untuk melapangkan dada dan ekstra bersabar dalam membimbing jalannya latihan membaca selama kurang lebih empat puluh lima menit.

1000627311.jpg

ngajar les naqi

Pertempuran mengajar malam itu akhirnya ditutup dengan sesi terakhir bersama Anaki, yang tidak lain adalah adik kandung saya sendiri. Bersama Anaki, materi yang diajarkan jauh lebih beragam, padat, dan menantang, mencakup pelajaran membaca, berhitung, hingga dasar-dasar bahasa Inggris. Seluruh rangkaian aktivitas mengajar les yang panjang dan menguras energi ini baru benar-benar tuntas pada jam sebelas malam.

Ketika semua murid telah pulang dan tugas mengajar selesai, rasa sakit kepala yang hebat dan pusing langsung melanda akibat kelelahan yang bertumpuk sepanjang hari. Namun, saya tetap memaksakan diri untuk menunaikan kewajiban shalat isya yang sempat tertunda karena padatnya jadwal les. Setelah shalat, saya menyempatkan diri untuk beristirahat sejenak, duduk santai di ruang tengah untuk menenangkan pikiran, dan membaca beberapa ayat suci Al-Quran sebagai penyejuk hati.

Begitu semua aktivitas selesai dan tubuh sudah memberikan sinyal kelelahan total, saya langsung merebahkan diri di tempat tidur untuk beristirahat karena kondisi fisik saya sudah tidak sanggup lagi untuk terjaga. Demikianlah catatan kisah perjalanan hari saya yang luar biasa padat, melelahkan, namun penuh dengan warna dan keberkahan yang luar biasa.