The Diarygame 19-7-2026 Menyempatkan diri Main Bulutangkis dengan Murid Les
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Senang sekali bisa kembali menyapa Anda di komunitas luar biasa ini. Saya doakan kita semua selalu dalam keadaan sehat walafiat dan terus membuat cerita-cerita terbaik kita. Hari ini saya merasa sangat senang bisa membagi keseharian saya seperti biasa. Pagi ini saya bangun agak sedikit kesiangan, lalu bergegas melaksanakan sholat subuh.
Setelah ibadah, saya langsung membantu ibu membersihkan rumah, mulai dari menyapu lantai hingga menyapu halaman depan. Ibu kemudian menyuruh saya membeli bumbu dapur di kedai kelontong dekat rumah untuk pelengkap menu hari ini. Ibu sedang membakar ikan tongkol segar di atas bara arang kayu yang aromanya sangat menggugah selera. Setelah matang, kami sekeluarga makan ramai-ramai menikmati kehangatan akhir pekan.
![]() | ![]() |
|---|
Selesai makan bersama dan membersihkan rumah, kami beristirahat santai menikmati waktu luang hingga jam dua belas siang. Saya kemudian mandi dan menunaikan sholat Dzuhur sebelum bersiap-siap pergi mengajar les pada jam tiga sore. Sebelum ke tempat les, saya singgah sebentar ke rumah saudara untuk mengambil raket ayah yang sudah dibeli lama sekali sebelum saya dilahirkan ke dunia ini.
![]() | ![]() |
|---|
Di sana saya juga mengambil raket badminton legendaris merek Paradiso yang usianya sudah sekitar 26 atau 27 tahun. Harga belinya dulu sekitar 230 ribu rupiah dan hebatnya masih sangat kokoh bertahan sampai umur saya yang sekarang sudah 23 tahun.
Dari sana saya langsung melanjutkan perjalanan ke tempat les yang jaraknya hanya sekitar 3 sampai 4 menit menggunakan sepeda motor. Sesi les pertama diisi dengan melatih kemampuan dialog anak-anak dalam bahasa Inggris agar mereka lebih terbiasa berbicara. Setelah itu kami melanjutkan ke sesi kosakata baru dan juga memperdalam materi tata bahasa yang sedang dipelajari saat ini.
Kami belajar tentang penggunaan kata depan "a" yang dipakai di depan huruf konsonan, atau "an" yang dipakai di depan huruf vokal. Awalnya mereka merasa materi ini agak rumit, namun alhamdulillah akhirnya mereka bisa memahami dengan baik. Salah satu murid saya bernama Awi sangat pintar dan cepat menghafal, meskipun tingkahnya sangat random dan lucu sehingga membuat suasana kelas asyik.
Setelah selesai mengajar sesi sore Saya sempat bermain raket dengan anak le saya sekitar lima belas menit untuk olahraga ringan sebelum bulutangkisnya jatuh ke atas genteng dan kami berhenti. setelah itu saya pulamg kerumah menunaikan sholat Ashar, saya beristirahat sejenak di rumah karena jam lima sore ada murid les berikutnya yang datang. Murid yang satu ini masih kelas satu SD dan belum lancar membaca, sebuah tantangan yang cukup menguras kesabaran saya. Saya memodifikasi cara mengajar dengan media kartu huruf dan gambar agar proses belajar menjadi lebih menyenangkan.
Setelah satu jam mengajar, dia dijemput oleh ibunya dan saya segera pergi ke ATM sebentar untuk mengambil uang. Saya juga membelikan clay titipan adik saya yang sudah riweuh dan rewel meminta mainan tersebut sejak siang hari. Sekalian saya mengambil paket sabun muka yang baru sampai, sebuah produk pembersih wajah jenis facial wash yang sangat bagus untuk kondisi kulit wajah saya.
Memasuki waktu Maghrib, saya menunaikan sholat dan mengantarkan adik-adik saya, Nafisa dan Anaqi, ke tempat mereka mengaji. Perjalanan saya berlanjut untuk mengisi les malam di rumah murid berikutnya yang bernama Hakim, Aisyah, dan Mubin. Mereka adalah anak-anak SD kelas tiga, lima, dan enam yang juga dijadwalkan untuk belajar materi bahasa Inggris pada malam ini.
![]() | ![]() |
|---|
Metode yang saya gunakan sama dengan anak siang, yaitu diawali dengan dialog agar mereka terbiasa berbicara baru kemudian menghafal kosakata baru. Karena mereka sudah sekolah dasar kelas tinggi, proses belajarnya selesai sedikit lebih lama. Untuk mengusir rasa bosan, kami bermain game lompat kotak di mana mereka yang bisa menjawab pertanyaan berhak melompat maju ke kotak selanjutnya.
Anak-anak terlihat sangat antusias sekaligus deg-degan saat mencoba menjawab pertanyaan permainan tersebut, namun alhamdulillah mereka bisa. Sesi les malam baru selesai sekitar jam sembilan malam, dan saya langsung pulang ke rumah dalam kondisi fisik yang sudah sangat lelah. Rasa lelah itu sedikit terobati ketika melihat adik saya ternyata ada membawa pulang mi goreng yang rasanya enak.
Bumbu mi gorengnya terasa sangat pas dan lezat di lidah saya yang sedang kelaparan setelah seharian bekerja keras. Setelah menghabiskan mi goreng tersebut, saya meluangkan waktu sejenak untuk duduk santai sambil berselancar di media sosial melalui telepon genggam. Kegiatan scrolling HP ini menjadi cara instan bagi saya untuk mengistirahatkan tubuh yang sudah benar-benar capek.
Sebelum tidur, saya menyempatkan diri untuk journaling guna menuangkan seluruh isi pikiran dan keluh kesah yang mengganjal hari ini. Jujur, saya merasa sangat lelah memikirkan bagaimana cara menghadapi kemampuan belajar anak murid yang berbeda-beda di tempat les. Di satu sisi, orang tua mereka menaruh harapan besar agar anak-anaknya bisa cepat pintar dan paham materi.
Namun di sisi lain, kemampuan serap setiap anak tidak bisa dipaksakan sama rata karena mereka memiliki keunikan masing-masing. Meskipun saya sudah mengajar dengan sekreatif mungkin memakai berbagai metode, menghadapi keterlambatan belajar tetap menguras pikiran. Setelah semua unek-unek di hati tumpah ke dalam tulisan jurnal, saya menutup hari dengan sholat Isya dan langsung tertidur lelap.












