The Diary Game June 25, 2026 | Trip to Banda Aceh City, My story hasn't reached its destination yet

Hᴇʟʟᴏ Sᴇᴍᴜᴀɴʏᴀ..
𝗦etelah memastikan bahwa kami harus berangkat ke "Kutaraja" (julukan kota Banda Aceh) pagi ini sekitar pukul 10.00 wib untuk mengikuti rapat koordinasi yang akan berlangsung pada Jum'at pagi di Balai BP3KP Sumatra I Aceh, saya terus berupaya merampungkan sekaligus memeriksa kembali hasil ketikan dokumen perencanaan pengadaan tanah (DPPT) untuk lokasi relokasi masyarakat terdampak bencana hidrometeorologi.
Mungkin terdengar sangat sibuk, padahal hanya kepanikan dan kejenuhan, karena jumlah pegawai produktif tidak sebanding dengan jumlah pekerjaan. Situasi ini rentan mengubah situasi normal menjadi semakin rumit dan tidak terkendali. Apalagi kegiatan audiensi dengan pihak terkait di Kota Banda Aceh yang mulanya dijadwalkan pada Senin (29/06/2026) terjadi perubahan (dimajukan) pada Jum'at pagi (26/06/2026, ditambah dengan kondisi jarak perjalanan kami membutuhkan waktu sekitar 5 jam dari Kota Lhokseumawe ke Kota Banda Aceh. Hal ini karena letak ibukota provinsi tidak ideal dan simetris dengan beberapa kabupaten/kota termasuk Kota Lhokseumawe.
![]() | ![]() |
|---|---|
Aku selalu memenuhi jam masuk kantor lebih awal dalam beberapa minggu terakhir, bahkan hampir tidak sempat mencicipi minuman favoritku setiap pagi karena volume pekerjaan terus meningkat. Aku sangat mengerti dengan kondisi setiap atasan ketika berhadapan dengan sejumlah pekerjaan bersifat "penting dan segera". Kegiatan pengadaan tanah dan perbantuan melibatkan instansi kami tidak hanya sebagai fasilitator melainkan sebagai stakeholder inti untuk mendukung percepatan terlaksananya kegiatan. Jadi, instansi kami harus berperan aktif dan selalu siap dengan beban kerja yang meningkat.
Sekitar pukul 10.30 wib saya dan beberapa rekan lainnya mulai meninggalkan kota Lhokseumawe. Kurang dari 60 menit perjalanan kami tiba di Geureugok, yakni ibukota kecamatan Gandaputra Kabupaten Bireuen.

Nama Geureugok juga terkenal berkat sentra kuliner legendaris "sate Apaleh". Warung sate tersebut telah lama menjadi tempat singgahan favorit masyarakat lokal bahkan para pelintas jalan Nasional Banda Aceh-Medan. Kami juga singgah disana untuk menikmati makan siang berupa nasi putih dan sate rasa lezat.
![]() | ![]() |
|---|---|
Selesai menikmati "sate Apaleh" kami melanjutkan perjalanan menggunakan minibus Toyota Innova (MPV). Tidak ada yang harus aku tulis saat dalam kenderaan melainkan berharap agar kenderaan kami tidak terjebak antrean kemacetan panjang di jembatan Krueng (Sungai) Tingkeum Kuta Blang Bireuen. Ya, saat ini kawasan tersebut mengalami kemacetan parah karena terputusnya jembatan Krueng Tingkeum akibat banjir bandang beberapa waktu lalu.
Benar saja, saat armada kami memasuki kawasan Kuta Blang antrian panjang mulai terlihat. Tidak dapat mengelak kecuali menjalani situasi tersebut. Minibus kami terus merayap pelan hingga 50 menit lamanya ditengah gelombang macet hingga mencapai bangunan jembatan sementara untuk melintasi Krueng Tingkeum.

Hingga saat ini jembatan Krueng Tingkeum merupakan jalur transfortasi utama Jalan Nasional Lintas Timur Sumatera yang menghubungkan Ibu Kota Provinsi Aceh-Medan Sumatera Utara.
Tiga jam kemudian armada kami mulai memasuki Jalan Tol Sigli-Banda Aceh (Tol Sibanceh). Itu Jalan Tol pertama di provinsi Aceh yang mulai diresmikan pada 9 September 2024. Hadirnya Tol Sibanceh sangat efesien karena memangkas waktu tempuh hingga 1,5 jam dibandingkan jalan Nasional (Sigli-Banda Aceh).

Armada kami terperangkap di bawah kumpulan mendung hitam, seperti perkiraan! hujan pun mulai turun deras dan menggangu perjalanan kami sebelum keluar dari jalan tol.


Armada kami akhirnya tiba di Kota Banda Aceh sekitar pukul 16.30 wib, kami belum terpikir untuk mencari penginapan karena salah seorang rekan kami yang saat ini tinggal di kota Banda Aceh mengajak kami untuk beristirahat dan melepas lelah di kediamannya untuk beberapa jam kedepan.
![]() | ![]() |
|---|---|
Setelah tubuh kami kembali fres atau merasa segar, kami keluar sejenak untuk mencari tempat penjual makanan dan minuman juice, ya! semua kami sepakat untuk mengganjal lambung kami dengan mie Aceh ketika dalam perjalanan menemukan warung ukuran kecil bernama "Mie Saleh 1" yang berlokasi di Jalan Makam Pahlawan Desa Peuniti Kecamatan Baiturrahman Kota Banda Aceh.
Itu warung Mie legendaris sebagaimana tertulis di papan nama ".....telah ada sejak 1997", entahlah, yang penting kami dapat menikmatinya untuk mengusir rasa lapar kami saat itu.
..Maaf! _Kisah diaryku untuk tanggal 25 Juni 2026 selesai disini, dan akan saya lanjutkan pada kisah The Diary Gameku selanjutnya pada tanggal 26 Juni 2026.. tentang tujuan perjalanan dinas ku ke Kota Banda Aceh.
Sekian kisahku hari ini! Terima kasih banyak atas kunjungan dan mungkin anda membacanya..
salam,
@ridwant






https://x.com/i/status/2071629029070037137
Upvoted! Thank you for supporting witness @jswit.
Curated by: @ ripon0630
Thank you brother @ripon0630 🙏
Huge thanks brother @sojib1996 🙏