Literasa — Peny University yang Tak Kunjung Jadi
Assalamu'alaikum sahabat Steemian.
Ada satu tempat di Pandeglang yang sudah cukup lama hidup di kepala saya,
tapi belum juga punya cerita yang bisa saya tulis — sampai hari itu tiba.
Pertama Kali Menangkap Nama Itu
Suatu waktu, saya melewati sebuah bangunan kecil bergaya kontainer
di pinggir jalan. Papan namanya besar, hitam-putih, langsung terlihat
dari kejauhan: LITERASA.
Saya berhenti sebentar di atas motor.
Literasa. Mirip sekali dengan kata Literasi — sebuah kata yang
menurut banyak orang terdengar berat, formal, dan tidak terlalu
mengundang. Tapi entah kenapa, justru itu yang bikin saya penasaran.
Karena kata "literasi" biasanya muncul di spanduk pemerintah atau
judul seminar, bukan di papan sebuah warung kopi pinggir jalan.
Di bawah nama itu tertulis: Herbal Drink & Coffee Shop.
Kombinasi yang tidak biasa. Kopi dan herbal? Di Pandeglang?
Selalu Tutup, Selalu Penasaran
Masalahnya, setiap kali saya lewat — tempat itu selalu tutup.
Entah sepi, entah belum siap, entah sedang ada urusan. Saya sudah
beberapa kali melirik pelan sambil berharap ada tanda kehidupan,
tapi nihil.
Jadi Literasa hanya tinggal sebagai tanda tanya yang saya simpan
sambil meneruskan perjalanan.
Hari Itu Ia Buka
Kemudian datanglah kesempatan yang saya tunggu.
Suatu pagi, saya melintas seperti biasa — dan kali ini ada orang
di dalamnya. Buka.
Saya langsung berhenti, mematikan mesin, dan masuk.
Kondisi di dalamnya memang masih berantakan. Ada pagar kawat besi
yang belum dipasang rapi, meja-meja yang belum tertata, dan sebuah
lemari kaca berisi buku di sudut ruangan — terkunci, tapi bisa
dilihat dari luar. Isinya mayoritas buku-buku keagamaan.
Saya bertanya kepada orang yang berjaga:
"Mas, ini Literasa — apakah disediakan buku buat dibaca?"
Dan ia mengiyakan. Katanya, semua buku di lemari itu bisa dibaca
gratis oleh siapapun yang datang. Tidak perlu bayar, tidak perlu
daftar. Cukup datang, pesan minuman, dan baca.
Sederhana, tapi menurut saya ide ini luar biasa.
Bayangan yang Terlalu Indah
Di sinilah imajinasi saya mulai berjalan sendiri.
Saya mulai membayangkan bagaimana jika ada Peny University di Pandeglang.
Tempat di mana kamu bisa duduk, memesan sesuatu, dan pulang dengan satu dua pengetahuan baru yang tidak kamu bawa waktu datang.
Dan yang membuat konsep ini makin menarik bagi saya....?
Produk utama mereka bukan kopi biasa — tapi jamu herbal.

Coba bayangkan: selama ini jamu identik dengan minuman orang tua, dijual di kaki lima, dituang dari termos, diminum sambil berdiri, di tempat yang tidak mengundang siapapun untuk berlama-lama. Tidak ada meja, tidak ada kursi, apalagi buku.
Tapi kalau jamu bisa disajikan di tempat yang punya nuansa literasi seperti ini — duduk santai, ada bacaan, ada obrolan — itu bukan sekadar warung jamu biasa. Itu adalah rebranding budaya
yang menurut saya sangat dibutuhkan.
Ngopi tapi dapat ilmu.
Minum jamu tapi dapat suasana.
Tidak ada yang seperti itu di Pandeglang — setidaknya belum ada.
Janji Akhir Januari
Saya bertanya kapan Literasa akan sepenuhnya buka.
Ia menjawab dengan mantap: "Akhir Januari, Mas."
Saya pulang dengan semangat. Menandai tanggal itu dalam ingatan.
Membayangkan akan kembali lagi, duduk lama, pesan jamu, baca buku.
Tapi akhir Januari datang dan pergi.
Februari lewat. Maret, April, Mei — saya masih sesekali melintas dan masih mendapati pemandangan yang sama: tutup.
Penghujung Juni
Dan kini sudah penghujung Juni.
Sudah hampir enam bulan sejak percakapan itu. Literasa masih
berdiri di tempatnya, papan namanya masih tegak, logonya masih
mengkilap — tapi pintunya, ya, masih saja enggan terbuka.
Mungkin ada kendala. Mungkin modal, mungkin perizinan, mungkin
sesuatu yang tidak saya tahu. Saya tidak mau menghakimi — karena
memulai usaha itu tidak semudah memasang papan nama.
Tapi ada satu hal yang saya tahu pasti:
Konsepnya bagus. Terlalu bagus untuk tidak terwujud.
Perpaduan antara literasi, jamu herbal, dan ruang baca gratis —
itu bukan ide sembarangan. Di kota-kota besar, tempat seperti
ini sudah ada dan selalu penuh. Pandeglang pun butuh ruang
seperti itu. Ruang di mana anak muda tidak hanya scroll
handphone sambil nunggu pesanan, tapi juga bisa membuka
halaman buku sambil menunggu segelas kunyit asam.
Penutup: Mudah-mudahan Masih Ada Waktu
Saya tidak tahu kapan Literasa akan benar-benar buka.
Mungkin bulan depan. Mungkin tahun depan. Mungkin tidak sama
sekali. Karena di Pandeglang, tempat di mana kamu bisa minum jamu sambil membaca buku — itu bukan sekadar bisnis.
Itu adalah kenekatan yang indah.
Dan saya sangat menantikan kenekatan itu untuk jadi kenyataan.
| Nama Tempat | Teras Literasa |
| Konsep | Herbal Drink & Coffee Shop + Ruang Baca |
| Lokasi | Pandeglang, Banten |
