18 Juli 2026 : Merawat Rindu, Menjaga Kenangan.
Pagi ini dimulai jauh lebih awal dari biasanya. Jarum jam baru saja melewati pukul tujuh ketika deru mesin sepeda motor memecah keheningan jalanan. Di boncengan, Ibu duduk dengan tenang, membawa serta kehangatan yang sudah dua minggu ini tidak saya rasakan.
Tujuan pertama kami pagi itu adalah sekolah tempat Ibu mengajar. Kami sengaja singgah sebentar ke sana untuk menyelesaikan satu urusan kecil, sebuah pembuka sebelum kami melanjutkan agenda yang jauh lebih besar dan emosional hari ini, yaitu berburu bahan makanan untuk persiapan acara satu tahunan berpulangnya almarhum Ayah.
Sebelum kami harus berhadapan dengan riuh rendahnya pasar yang menguras energi, saya memutuskan untuk membelokkan kemudi ke arah Benk Kupi. Tempat ini menjadi pilihan kami untuk menepi sejenak dan mengisi tenaga.
Pertemuan setelah dua minggu saling disibukkan oleh rutinitas masing-masing membuat momen sarapan sederhana ini terasa begitu berharga. Obrolan hangat mengalir tanpa putus, melompati berbagai topik dari yang remeh hingga cerita melepas rindu yang mendalam.

Potret Sarapan Pagi Saya dan Ibunda Tercinta
Di atas meja kayu itu, tersaji dua piring lontong sayur yang mengepul hangat. Sebagai pelengkapnya, segelas teh dingin yang menyegarkan pesanan saya bersanding kontras dengan teh hijau hangat pilihan Ibu. Di warkop inilah, di sela-sela suapan lontong dan tegukan teh, kami saling bertukar tawa dan mempererat kembali ikatan yang sempat berjarak oleh waktu.
Setelah energi dan ruang rindu kami terisi penuh, perjalanan pun kami lanjutkan menuju Lampulo. Begitu memasuki kawasan pasar pesisir ini, riuh rendah suara manusia dan aroma khas laut langsung menyergap indra penciuman. Suasana sudah sangat padat, berjubel oleh ratusan orang yang memiliki tujuan sama. Lampulo memang selalu menjadi primadona yang diburu masyarakat, bukan hanya karena harganya yang miring lantaran dipasok langsung dari kapal nelayan, melainkan juga karena jaminan kesegaran hasil lautnya yang tiada tanding.

Potret Ramainya Pengunjung Lampulo Pagi ini
Kami segera mencari celah untuk memarkirkan motor di antara barisan kendaraan yang mengular. Begitu kaki melangkah masuk ke area basah, Ibu langsung mengambil kendali. Dengan langkah pasti di tengah hiruk-pikuk dan lantai pasar yang becek, Ibu mulai mencari lapak yang menjual udang dan cumi. Keahlian seorang ibu memang tidak pernah bohong, dengan sangat lihai, beliau memilah dan memilih hingga akhirnya alhamdulillah, kami mendapatkan udang dan cumi dengan kualitas terbaik yang dagingnya masih kenyal dan segar.

Potret Ibu Bertransaksi Cumi dan Udang
Puas dengan tangkapan pertama, kami melipir tidak jauh dari sana untuk mencari ikan. Mata Ibu yang jeli kembali menuntun kami pada sebuah lapak yang memajang deretan ikan berkilau. Setelah menimbang sejenak, pilihan kami jatuh pada beberapa ekor ikan tongkol yang gemuk dan ikan bandeng segar. Semua hasil laut itu pun dibungkus rapi dalam kantong plastik besar.
Tidak berhenti di situ, petualangan belanja kami berlanjut ke area sayur-mayur yang terletak tak jauh dari lapak ikan. Di sinilah sentuhan akhir untuk masakan acara Ayah dilengkapi. Kami bergerak dari satu bedeng ke bedeng lain, mengumpulkan kelapa kukur, garam dapur, cabai merah yang segar, bawang merah, bawang putih, hingga tomat-tomat yang matang sempurna.

Potret Ibu Bertransaksi Bahan Bumbu Dapur
Ketika semua kantong belanjaan sudah penuh sesak dan berat di kedua tangan, kami pun memutuskan untuk menyudahi perburuan pagi ini. Kami bergegas kembali ke motor dan membelah jalanan kota menuju sekolah Ibu. Saya mengantarkan beliau kembali ke gerbang sekolah agar bisa melanjutkan aktivitas dan kewajibannya mengajar dengan tenang.
Setelahnya, saya pun memacu motor sendirian menuju rumah dengan membawa seluruh barang belanjaan yang memenuhi gantungan motor.
Pagi ini bukan sekadar tentang belanja atau menyiapkan sebuah acara. Pagi ini adalah sebuah perpaduan indah antara produktivitas, kehangatan yang kembali terajut bersama Ibu, serta sebuah bakti yang tulus untuk menjaga kenangan tentang almarhum Ayah agar tetap hidup di hati kami.

Thanks, I highly appreciate all your support.