Mengenal Sifat Manusia
Sepuluh tabu sifat manusia dalam pribahasa. Apakah kamu memahaminya. 10 kebenaran nyata dari nenek moyang kita mengungkapkan betapa banyaknya fakta tentang sifat manusia, dan kalimat terakhirnya benar-benar menusuk tulang punggung orang dewasa.
Good people....
Sebenarnya ada beberapa perkataan yang sudah lama dijelaskan secara tuntas oleh nenek moyang kita. Hanya saja kita baru bisa memahaminya setelah mengalami kegagalan terlebih dahulu.
Setiap kalimat dari sepuluh pribahasa ini menyembunyikan jurang sifat manusia, mereka yang mengerti akan terdiam, sementara yang tidak mengerti akan terus terjatuh.
Kalimat pertama, segantang beras menjadi budi, sekarung beras menjadi dendam.
Kamu memberinya seliter beras, tapi saat kamu memberinya sekarung, dia malah mendendam kenapa kamu tidak memberinya lebih banyak lagi.
Hal yang paling mengerikan dari sifat manusia bukanlah sifat keserakahan, melainkan menganggap kebaikan orang lain sebagai sebuah kebiasaan.

Tabu semacam ini disebut serigala yang tak pernah kenyang.
Kalimat ke sembilan, bantulah saat genting, jangan bantu kemiskinan.
Artinya, kamu bisa menyelamatkan seseorang dari bahaya mendesak, tapi tidak bisa menyelamatkannya dari kemiskinan seumur hidup. Karena dibalik kemiskinan, seringkali terdapat konspirasi antara pola pikir dan takdir.
Orang yang terlalu lama meminta-minta, akan lupa bagaimana caranya berjalan sendiri. Tabu ini disebut jurang yang tak bisa ditimbun.
Kalimat ke delapan, tidak ada anak berbakti di depan ranjang orang yang sakit berkepanjangan.
Ini bukanlah sindiran bahwa anak tidak berbakti, melainkan mengungkap batas daya tahan sifat manusia.
Perasaan sedalam apa pun tidak akan sanggup menahan kelelahan yang terkuras hari demi hari.
Kalimat ini menembus bukan pada kasih sayang keluarga, melainkan pada kerapuhan sifat manusia.
Kalimat ke tujuh, kerabat jangan berbagi harta, berbagi harta memutuskan tali silaturahmi. Manusia mati demi harta, ikatan darah dihadapan keuntungan, seringkali setipis sayap jengkrik.
Kamu mengira kasih sayang keluarga bisa melampaui perhitungan materi, pada akhirnya kamu baru menyadari, tidak semua orang yang memiliki hubungan darah itu tulus padamu, dan juga setiap anggota keluargamu berharap yang terbaik untukmu, jika kamu benar-benar menghargai sebuah hubungan.
Kalimat ke enam, lebih baik mati kelaparan daripada bekerja pada kerabat, lebih baik mati miskin daripada menggarap ladang mertua.
Piring makan yang membuatku menundukkan kepala, adalah cara yang paling mudah menghancurkan harga diri. Begitu hubungan dicampuri urusan pekerjaan, budi baik pun berubah menjadi hutang beban.
Ini bukanlah soal gengsi, melainkan karena memahami betul bahwa hutang budi adalah hal yang paling sulit dilunasi.
Kalimat ke lima, menikahkan putri, pilihlah menantu yang baik. Jangan menuntut mahar tinggi, menikahi menantu perempuan, carilah yang berbudi, jangan memperhitungkan mas kawin besar.
Kalimat ini menekankan bahwa, manusia adalah hal yang utama. Dalam menikah, pilihlah orangnya dulu, baru uangnya.
Sayangnya, betapa banyak keluarga yang melakukannya secara terbalik, uang mahar, dan mas kawin dijadikan tolak ukur materi, namun malah menghilangkan ketulusan cinta.
Uang adalah jaminan pernikahan, tetapi jika status uang terlalu ditinggikan, maka hal ini akan dengan mudah membuat materealisme merajalela, mengubah pernikahan menjadi transaksi terang-terangan, yang pada akhirnya akan merusak rasa bahagia diantara satu satu sama lain.
Kalimat ke empat, sindiran jangan masuk tempat ibadah, berdua jangan menatap sumur, nenek moyang menggunakan kata-kata yang paling sederhana, untuk mengajarimu melihat tembus sisi gelap manusia.
Saat sendirian waspadalah terhadp fitnah, saat bepergian berdua wasapada terhadap jebakan niat jahat.
Ini bukanlah teori konspirasi, melainkan sikap untuk waspada terhadap orang lain itu harus selalu ada
Kalimat ke tiga, mengenal orang dan mengenal wajah, namun tidak mengenali hatinya.
Kamu mengira dengan melihat jelas wajah seseorang maka kamu sudah memahami hatinya, padahal hati manusia terhalang oleh kulit perut.
Orang yang hari ini bersulang dan bersuka cita bersamamu, besok bisa jadi sedang mengasah pisau dibelakangmu.
Tabu ini mengajarkan agar jangan terlalu percaya pada apa yang dilihat mata.
Kalimat kedua, saat miskin di kota yang ramai, tidak ada yang peduli, saat kaya di pegunungan terpencil, ada saja kerabat jauh yang datang.
Sifat duniawi yang panas dingin, tidak pernah menjadi rahasia, hanya saja ketika kamu secara langsung berdiri di dua sisi, kemiskinan dan kekayaan tersebut, barulah kamu akan benar-benar merasakan betapa pahitnya nasi dingin ini.
Kalimat ini telah mengungkapkan warna dasar yang paling nyata dari hubungan antar manusia.
Kalimat pertama, anak ingin berbakti mengurus orang tua, namun orang tua sudah tiada.
Kalimat ini lagi, alasan mengapa kalimat ini bisa menembus tangga sastra dan masuk ke posisi puncak tabu sifat manusia, adalah karena kalimat ini mengungkap sebuah fakta hidup yang paling tak terpecahkan.
Cinta, tidak tahan akan penantian. Saat orang tua masih ada, kamu merasa semuanya masih belum terlambat, masih panjang waktunya. Namun, saat kamu ingin menoleh kembali, yang tersisa hanyalah kuburan yang ditumbuhi rumput liar.
Ini bukanlah sebuah penyesalan, melainkan penghakiman akhir yang tak bisa dihindari oleh setiap orang dewasa.
Good people....
Pribahasa-pribahasa ini tidak menceritakan sesuatu yang romantis ini tidak menceritakan sesuatu yang romantis, namun setiap karakternya menusuk hingga berdarah, sangat realistis.
Mereka bukanlah mengajarkan kita untuk menjadi acuh tak acuh, melainkan agar kita tersadar memahami sifat dasar manusia, bukan digunakan untuk menjadi licik, melainkan agar di dunia yang rumit ini kita bisa hidup dengan mengerti dan mencintai dengan saling menghargai.
Terakhir ingin saya katakan, secara proaktif menghindari sisi gelap sifat dasar manusia, melainkan bentuk kewaspadaan, ini bukan bertujuan untuk mencurigai orang lain.
Semoga kita semua mampu melihat tembus ke dalam hati manusia.
Salam kompak selalu.
By @midiagam
