Pemberantasan korupsi via blockchain dalam pendaftaran tanah butuh dasar hukum kuat, pengakuan resmi catatan digital, mekanisme sengketa, dan keselarasan dengan hukum Indonesia
Pergeseran dari sistem pendaftaran tanah konvensional—baik berbasis kertas maupun sistem digital terpusat—ke sistem yang dibangun di atas blockchain bukan hanya soal teknologi. Pada dasarnya, ini adalah transformasi hukum dan regulasi. Meskipun blockchain dapat menawarkan kekebalan terhadap perubahan dan transparansi, hanya kerangka hukum yang kuat yang dapat memberikan legitimasi dan penegakan yang dibutuhkan untuk adopsi yang luas dan untuk mencapai tujuan utama pemberantasan korupsi. Tanpa kerangka kerja tersebut, bahkan sistem blockchain yang paling canggih pun tidak memiliki otoritas untuk menciptakan dampak nyata di dunia nyata.
Langkah pertama yang krusial adalah pengakuan resmi pemerintah terhadap catatan kepemilikan tanah berbasis blockchain. Ini melibatkan peninjauan kembali dan berpotensi mengubah undang-undang pertanahan Indonesia yang ada, seperti UU Agraria Dasar (UU PA). Sistem hukum harus secara jelas mendefinisikan buku besar blockchain sebagai "Catatan Emas" resmi dan berwibawa atas kepemilikan tanah, menggantikan dokumen kertas atau basis data terpusat. Ini memastikan bahwa entri pada blockchain mengikat secara hukum dan bukan hanya salinan informasi.
Selain itu, kerangka hukum harus mengakui kontrak pintar sebagai sah dan dapat ditegakkan, khususnya untuk pengalihan tanah. Kondisi otomatis—seperti verifikasi identitas dan konfirmasi pembayaran pajak—harus diterima sebagai perjanjian yang mengikat secara hukum berdasarkan hukum kontrak Indonesia. Pada saat yang sama, peraturan harus membahas kedaulatan data dan masalah privasi, menentukan di mana node blockchain berada dan menentukan data mana yang dapat diakses publik di ledger dan mana yang tetap bersifat pribadi atau disimpan di luar rantai (off-chain), sesuai dengan undang-undang perlindungan data Indonesia.
Meskipun blockchain mengurangi penipuan dan kesalahan administratif, blockchain tidak dapat menghilangkan semua sengketa. Beberapa konflik mungkin berasal dari masalah lama, kesalahan teknis, atau ketidaksepakatan mengenai logika kontrak pintar. Oleh karena itu, kerangka hukum harus mendefinisikan bagaimana sengketa yang sudah ada—seperti klaim tanah yang tumpang tindih atau catatan sejarah yang curang—diselesaikan sebelum data yang diverifikasi dimasukkan ke dalam sistem blockchain.
Karena pengadilan tradisional mungkin kekurangan keahlian teknis yang dibutuhkan untuk kasus-kasus terkait blockchain, kerangka kerja harus mempertimbangkan mekanisme penyelesaian sengketa khusus. Ini dapat mencakup pengadilan khusus atau sistem arbitrase dengan pengetahuan tentang teknologi blockchain, yang memungkinkan pengambilan keputusan yang lebih cepat dan akurat sekaligus meningkatkan kepercayaan pada sistem.
Meskipun catatan blockchain tidak dapat diubah, kesalahan masih dapat terjadi. Sistem hukum harus menyediakan proses yang jelas untuk mengoreksi kesalahan tersebut. Biasanya, ini melibatkan pihak yang berwenang untuk memulai transaksi baru yang mengubah catatan sambil tetap menjaga jejak audit lengkap, seringkali di bawah wewenang badan resmi dan didukung oleh keputusan pengadilan.
Pengembangan sistem pendaftaran tanah berbasis blockchain juga membutuhkan kolaborasi berkelanjutan dengan berbagai pemangku kepentingan. Instansi pemerintah, ahli hukum di bidang teknologi dan hukum properti, serta otoritas pertanahan harus dilibatkan sejak awal untuk memastikan bahwa peraturan baru selaras dengan hukum yang ada dan praktis untuk diimplementasikan.
Keterlibatan pemangku kepentingan juga penting untuk membangun dukungan politik. Reformasi tanah adalah isu sensitif, dan transparansi serta inklusivitas diperlukan untuk mendapatkan kepercayaan di antara para pembuat kebijakan dan untuk mengatasi penolakan dari pihak-pihak yang mungkin mendapat manfaat dari kurangnya transparansi saat ini.
Terakhir, masukan dari para profesional dan masyarakat sangat penting. Notaris, pengembang real estat, bank, dan warga biasa harus dikonsultasikan untuk memastikan sistem tersebut memenuhi kebutuhan dunia nyata. Umpan balik mereka membantu membentuk kerangka hukum dan strategi adopsi yang efektif, yang sangat penting untuk keberhasilan jangka panjang sistem tersebut.
Mpu Gandring ingin memberantas korupsi di Indonesia dengan teknologi blockchain! Anda ingin mendukung?
- Follow akun Mpu.
- Upvote dan resteem postingan Mpu.
- Share di Instagram, Facebook, X/Twitter dll.
- Biar pemerintah mendengar dan menerapkannya.





Upvoted! Thank you for supporting witness @jswit.