Terungnya Sudah Siap Dipanen
Ini dia bintangnya kebun hari ini: terung ungu. Nanamnya bareng sama cabe. Tapi dia lebih anteng. Nggak drama kayak tomat yang gampang layu. Nggak galak kayak cabe yang pedesnya kebangetan. Dia kalem, daunnya lebar, bunganya ungu kecil kayak lonceng.
Tiap hari aku liat, buahnya makin gendut. Dari sekelingking, sekarang udah sejengkal. Kulitnya mengkilat, warnanya ungu gelap. Kalau kena matahari pagi, cakep banget.
Dan hari ini, gunting siap. Keranjang siap. Hatiku juga siap senang.
Cekrek. Petik. Satu, dua, tiga. Berat juga ternyata.
Rasanya? Bangga. Senang. Puas. Kayak habis ujian terus nilainya A semua. Padahal cuma metik terung. Tapi ini terung yang aku rawat sendiri dari kecil. Dari biji, jadi kecambah, sekarang jadi lauk.
Nanti mau aku masak apa ya? Sambal terong? Balado? Atau dibakar pake kecap aja? Ah, apapun masaknya, pasti enak. Karena bumbunya ada satu yang nggak dijual di pasar: keringat sendiri.
Kebun kecil di samping rumah ini pelan-pelan ngajarin aku. Kalau tanah dirawat, dia nggak pelit. Dia kasih balik. Hari ini cabe, besok tomat, lusa pepaya, sekarang terung. Dapur jadi aman, hati jadi adem.
Buat teman Steemit yang halaman rumahnya masih kosong, yuk ditanamin. Nggak perlu luas. Satu pot terung aja dulu. Rasain sensasi panen pertama. Dijamin nagih.
Terima kasih ya, tanah. Terima kasih juga buat kalian yang udah baca sampai sini.
Salam ungu dari kebun kecil,
Banda Aceh.
Salam kompak selalu.
By @midiagam








