19 Juli 2026 : Menyalin Rindu Menjadi Pahala
Hari ini, tenang menyelimuti rumah kami dengan cara yang begitu hangat. Tepat satu tahun berlalu sejak Ayah pergi meninggalkan kami untuk selama-lamanya.
Waktu satu tahun bukan hal yang singkat untuk melepaskan, namun perlahan kami mulai memahami bahwa di balik kehilangan ini, selalu ada hikmah besar yang tersimpan.
Pagi kami dibuka dengan riuhnya dapur. Ibu, seperti biasa, menjadi sang juru masak andalan. Tangannya begitu mahir mengolah bahan-bahan yang sudah disiapkan sejak kemarin, mulai dari nasi putih, nasi minyak, hingga aroma menggugah dari udang sambal dan cumi tumis.
Saya beruntung menjadi orang pertama yang mencicipi hasil racikannya. MasyaAllah, rasanya benar-benar tiada tandingan. Ada kasih sayang yang tulus yang ia tuangkan ke dalam setiap masakan.

Potret Syahdu Masakan Ibu Tercinta
Saya dan adik-adik berbagi tugas, merangkai kotak demi kotak nasi untuk siap diisi. Suasana kian hangat dan ramai saat abang serta kakak-kakak ipar datang bergabung, melengkapi tawa di antara kepulan asap dapur.

Potret Proses Merangkai Kotak Nasi

Potret Kotak-Kotak Nasi Telah Terisi dan Siap Untuk Dibagikan
Ketika semua makanan selesai terbungkus rapi, saya dan Abang melangkah mengantarkannya ke rumah anak-anak yatim di sekitar rumah.
Di setiap bingkisan yang berpindah tangan, terselip doa dan harapan tulus, semoga setiap suapnya menjadi penyejuk, penambah timbangan amal dan penerang bagi jalan Ayah di peristirahatan terindahnya. Allahumma Amiin.
Thanks, I highly appreciate all your support.