The Diary Game (April 16, 2026) | My activity admidst hot weather, dust, and vehicle exhaust fumes.
Tidak selamanya dialog pagi dalam sebuah keluarga terkendalikan dengan baik atau terdengar harmonis. Hujan dan gerimis di penghujung malam sering kali dijadikan alasan oleh anak-anakku untuk bangun dari tempat tidur dan seakan ketakutan mendengar sebutan "kamar mandi".
Pagi ini, sebelum langit mulai terang dan cerah, pukul 05.30 wib aku sempat kewalahan membangunkan anak-anak untuk mandi dan shalat subuh karena hawa dingin dan gerimis terasa menembus selimut tebal ditubuh mereka. ..hingga tiga kali panggilanku belum juga mereka bangkit dari ranjangnya.. aku sempat kesal seraya menghela nafas...
Tiba-tiba istriku datang, dan....
"..Bangunnn!, atau air akan datang untuk membangunkan kalian!" mendengar suara ibu mereka sedikit keras, kedua anakku mulai bangkit dari ranjang mereka dan menuju kamar mandi secara bergantian. Sekitar pukul 07.20 wib aku keluar dari rumah dengan memboncengi putriku ke sekolah, sementara abangnya menggunakan kenderaan sendiri ke sekolah.

Sisa hujan ringan di pagi buta masih membekas dan menggenangi badan jalan ketika aku tiba di gerbang sekolah tempat putriku belajar. Setelah memastikan ia berada di areal sekolah dengan aman sepeda motorku kembali melaju ke arah jalan Merdeka yakni akses utama menuju ke tempatku bekerja.
Suara bising dan polusi hasil pembakaran mesin-mesin kenderaan adalah fenomena buruk setiap wilayah padat penduduk. Aku dan sejumlah pengendara sepeda motor hanya dapat melindungi pernafasan dengan masker, karena satu kali menghirup zat beracun "carbon monoksida" mungkin sama bahayanya dengan menghisap seribu cerutu.
Aku tiba di ruang kerja, tumpukan map dan kertas-kertas di atas mejaku bukan sampah tapi pekerjaan yang harus aku selesaikan meskipun aku masih aktif bertugas melakukan verifikasi dan validasi data warga terdampak bencana hidrometeorologi di pendopo bupati. Aku sama sekali belum bisa mengerjakannya karena selesai melakukan presensi pagi aku harus berangkat ke pendopo.
![]() | ![]() |
|---|---|
Aku harus menggunakan hari liburku untuk mengerjakan pekerjaan kantor, dan atasanku mengerti hal ini karena setiap orang tidak mungkin dapat melakukan dua hal berbeda dalam waktu bersamaan. ..beberapa menit kemudian aku berada diwarung Cekgu, ini kebiasaan yang sulit aku hindari meskipun waktuku sangat singkat setiap pagi, paling tidak lidah dan kerongkonganku tetap merasakan minuman berwarna pekat ini dalam cangkir ukuran kecil atau kami menyebutnya sebagai "kopi pancong".
Tiga puluh menit saja aku telah dapat keliling dunia dengan ponselku seraya mencicipi minuman pahit berwarna hitam pekat dimejaku. Selanjutnya aku meneruskan perjalanan ke pendopo bupati dan berharap rekan kerjaku juga sudah berada disana untuk melanjutkan tugas Vervali ribuan data warga terdampak bencana hidrometeorologi. Sepertinya belum ada tanda-tanda tugas panjang ini akan selesai.
![]() | ![]() |
|---|---|
Benar saja firasatku, setiba di ruang utama tersebut aku melihat sejumlah kursi masih kosong. Banyak petugas belum berada ditempat karena alasan tinggal di luar kota adalah kondisi yang harus dimaklumi. Sedangkan rekanku di instansi yang sama seringkali hadir tepat waktu karena ia bukan penggemar kopi.
Beberapa jam selanjutnya ruangan mulai sunyi dan hanya terdengar suara papan tik dan komunikasi nada rendah antar petugas. Beberapa dari kami menyudahi kegiatan verivali disaat jam istirahat tiba, tapi sebahagian lainnya yang tinggal di luar kota memilih bertahan dan menikmati makan siang di pendopo.
Kurang lebih dua jam waktu istirahat juga aku gunakan untuk rutinitas keluarga seperti menjemput putriku pulang sekolah, berbelanja kebutuhan sehari-hari, shalat dhuhur dan makan siang. 30 menit dari waktu istirahat ini juga harus aku gunakan untuk berada di kantor guna menyelesaikan beberapa tugas kecil sebelum kembali ke pendopo bupati, jadi aku tidak dapat merebahkan badan untuk menghilangkan rasa lelahku siang ini.
Entahlah! aku tidak peduli cuaca panas dan terik sang surya membuntuti setiap perjalananku ke tempat tugas. Selesai pekerjaanku di kantor aku kembali ke pendopo untuk melanjutkan tugas yang sama hingga jam istirahat tiba pada pukul 16.30 wib.
Tidak ada surat tugas untuk membebaskanku dari presensi pagi dan sore sehingga aku terpaksa kembali ke kantor untuk melakukan presensi digital sebagai bukti kehadiran sejak pagi hingga jam pulang kantor.
Searah jalan pulang ke rumah aku singgah di tempat pedagang martabak telur, tepatnya di Jl. Listrik Pasar Inpres untuk membeli satu porsi makanan favorit istriku, ya, martabak telur adalah salah satu makanan kombinasi (adaptasi) kuliner dari India dan timur tengah yang telah lama menjadi salah satu penganan kas di Indonesia.
Sekian... Terima kasih banyak atas kunjungan dan mungkin anda membacanya..
salam,
@ridwant
Posted with Speem








https://x.com/i/status/2045527022089449628
Upvoted! Thank you for supporting witness @jswit.
Thank you @sduttaskitchen 🙏
Hi friend
#play
Speem Video Watcher Team @ninapenda
Thank you @ninapenda
High-Yield Curation by @steem-seven
Your content has been supported!
Maximize your passive income!
Delegate your SP to us and earn up to 0.45 STEEM / 1000 SP.
Click here to see our Tiered Reward System
We are the hope!
Your post have been rewarded by the Speak on Steem curator team!
Now become a plus member delegating at least 500 SP
Ways to support us:
Curated by @marvinvelasquez