The Diary Game, July 28, 2026 | Stuck between boredom and hope!

Hᴇʟʟᴏ ꜱᴏʙᴀᴛ ᴋʀᴇᴀᴛɪꜰ...
𝗔ku tidak peduli seberapa menariknya rupa cover sebelum melihat tulisan di dalamnya, namun kita perlu menghargai karya dan kerja keras mereka lainnya yang berupaya memberi dan menghubungkan kita dengan pengetahuan baru, meskipun tulisan itu terbungkus oleh sampul yang kusam. Prioritas sebuah dokumen perencanaan adalah substansi yang jelas akan sangat mempengaruhi tahapan selanjutnya untuk kegiatan pengadaan tanah.
Aku terus mengoreksi setiap narasi pada lembar-lembar dokumen perencanaan dan melakukan perbaikan setiap elemen yang kurang sebelum diserahkan ke beberapa instansi terkait lainnya. Mungkin ini tentang rutinitasku yang kurang menarik untuk di dalami. Tapi anda harus tahu, semakin berat pekerjaan yang berhasil kita selesaikan maka akan semakin besar pula kepuasan batin yang kita terima.

Rapat kembali diadakan pagi ini. Komunikasiku dengan keluarga bahkan dengan siapapun mulai terputus sejak pukul 09.00 wib. Aku hanya fokus pada setiap mulut yang mulai berbicara, berargumen hingga kesimpulan akhir. Sebagai notulis, posisiku adalah pendengar aktif yang harus dapat memilah informasi serta tidak perlu mencatat pengulangan kalimat. Kekuranganku tidak dapat menyusun kalimat baku dengan cepat. padahal, sebelum rapat di mulai aku telah mempelajari dan menguasai beberapa jargon yang berhubungan dengan topik kegiatan tersebut.
![]() | ![]() |
|---|
..usai kegiatan rapat aku kembali ke ruang kerja untuk finalisasi notulen dan foto dokumentasi hingga selesai mencetaknya (print). Aku jeda sejenak di ruang santai seraya menghabiskan sisa kopi dalam cup plastik sebelum menuju ke Panca Grafika Photocopy di Jl. Panglateh simpang Empat (lokasi) untuk memperbanyak beberapa dokumen yang terlanjur dicetak dalam jumlah terbatas.

Aktivitasku di kantor sedikit berantakan akibat pergeseran jam belajar putriku beberapa hari terakhir. Jam masuk/pulang sekolah tidak menentu sangat tidak ideal dengan jam kerjaku. Aku tidak tahu entah berapa lama lagi rehabilitasi atap dan ruang belajar akan selesai agar jam belajar mengajar kembali normal.
Aku masih menunggu putriku keluar dari kelasnya setelah beberapa saat tiba di halaman sekolah. Cuaca terik dan panas membuatku gerah dan tidak nyaman, bukan berpikir tentang terlambat kembali ke kantor tapi lambungku juga mulai menjerit meminta asupan makanan.

...Tiba di rumah aku segera menuju ruang dapur. Aku masih bertahan dengan Budaya tradisional dimana saat makan tidak menggunakan alat bantu alias sendok tapi dengan tangan, alasan ini pula misi saya di meja makan hanya berlangsung kurang dari 5 menit.
Memang, lokasi kediamanku juga sangat dekat dengan jalan Darussalam yang sering aku gunakan sebagai alternatif menuju ke kantor jika Jl. Listrik mengalami kemacetan. Ya, dimaklumi karena Jl. Listrik adalah akses utama masyarakat kota berhubungan dengan salah satu pusat perbelanjaan terbesar disana yakni Pasar Inpres.

Aku tidak akan mengulang menceritakan kisah yang sama ketika tiba kembali di kantor. Kertas dan labtob adalah saksi bisu betapa membosankan ketika saban hari dihadapkan dengan rutinitas yang sama, namun tidak mungkin aku tinggalkan karena rutinitas ini akan membantuku keuanganku saat tanggal muda.
Sepulang dari kantor....
Aku berupaya untuk tenang dan tidak terburu-buru saat menumpahkan ide mentah dalam postingan diary. Aku ingin bebas menggambarkan realita apapun yang telah aku jalani sejak pagi hingga tiba kembali di warung Cikgu saat malam hari sebagai aktivitas penutup.

Bukan tentang nikmatnya mencicipi rasa kopi, tapi tentang produktivitas apa yang paling memuaskan dalam penggunaan waktu ku selama 840 menit.
Sekian diary ku hari ini, Terima kasih banyak atas kunjungan dan mungkin anda membacanya..🙏
salam,
@ridwant


https://x.com/i/status/2082847095531450369
Upvoted! Thank you for supporting witness @jswit.
Mantap kawan
🤭🤭
Thank you brother @mahadisalim 🙏
Terima kasih kanda @radjasalman 🙏