Membuat modul dan silahturrahmi
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh apa kabar kawan-kawan saya semuanya semoga kalian dalam keadaan sehat semuanya. Hari ini saya menghabiskan waktu di sebuah warung kopi yang cukup nyaman di kawasan landeng, aceh utara. suasananya sederhana, namun terasa hidup dengan deretan kursi merah dan meja panjang yang menjadi tempat berkumpul banyak orang. bersama dua rekan, kami duduk mengelilingi meja sambil membuka laptop masing-masing, fokus pada pekerjaan yang harus diselesaikan, yaitu menyusun modul pembelajaran.
secangkir kopi hitam tersaji di depan kami, menemani suasana kerja yang santai namun tetap serius. sesekali kami berdiskusi kecil, saling bertukar ide tentang isi modul yang sedang kami susun. suasana warung yang tidak terlalu ramai membuat kami cukup leluasa untuk berkonsentrasi, meskipun sesekali terdengar suara pelanggan lain yang datang dan pergi.
bekerja di luar ruangan seperti ini memberikan nuansa yang berbeda. tidak terasa kaku seperti di kantor, justru lebih santai dan mengalir. ide-ide pun terasa lebih mudah muncul ketika suasana hati tenang. salah satu rekan bahkan sesekali tersenyum sambil menunjukkan hasil pekerjaannya, seolah merasa puas dengan apa yang telah disusun.
waktu berjalan tanpa terasa. dari pagi hingga menjelang siang, kami tetap berada di tempat yang sama, berusaha menyelesaikan bagian demi bagian dari modul tersebut. walaupun sederhana, momen ini terasa sangat berarti karena kami tidak hanya bekerja, tetapi juga mempererat kebersamaan. semoga hasil dari kerja hari ini bisa bermanfaat bagi banyak orang.
setelah menyelesaikan pekerjaan membuat modul di warung kopi union, saya bersama beberapa rekan memutuskan untuk melanjutkan perjalanan menuju daerah sumbok. tujuan kami adalah untuk berkunjung ke rumah salah satu warga yang sedang berduka karena kehilangan anggota keluarganya.
perjalanan menuju ke sana terasa lebih hening dibandingkan saat kami berada di warung kopi. suasana hati perlahan berubah menjadi lebih tenang dan penuh empati. setibanya di rumah duka, kami melihat beberapa warga sudah lebih dulu hadir. tikar telah digelar di halaman rumah, dan beberapa orang duduk dengan wajah yang tenang namun menyimpan rasa duka.
saya pun ikut duduk bersila bersama yang lain. di sekitar saya, terlihat ibu-ibu berbincang pelan, sementara beberapa bapak-bapak memilih diam, mungkin larut dalam doa dan pikiran masing-masing. suasana begitu sederhana, namun terasa sangat dalam. tidak ada suara keras, hanya percakapan ringan dan sesekali lantunan doa yang membuat hati terasa lebih teduh.
di sudut lain, terlihat beberapa warga membantu menyiapkan hidangan sederhana untuk para tamu yang datang. kebersamaan seperti ini selalu menjadi ciri khas di gampong kami, di mana semua orang saling membantu tanpa diminta. rasa kekeluargaan begitu terasa, seolah semua yang hadir ikut merasakan kehilangan yang sama.
saya sempat berbincang singkat dengan keluarga yang ditinggalkan, mencoba memberikan kata-kata penguatan meskipun saya tahu tidak ada kata yang benar-benar bisa menghilangkan rasa duka. kehadiran kami mungkin sederhana, tetapi setidaknya bisa sedikit meringankan beban yang mereka rasakan.
dalam perjalanan pulang, saya banyak merenung. hari ini bukan hanya tentang bekerja dan menyelesaikan tugas, tetapi juga tentang hadir untuk orang lain di saat mereka membutuhkan. semoga keluarga yang ditinggalkan diberikan kekuatan dan ketabahan. dan semoga saya selalu diingatkan untuk terus menjaga silaturahmi serta peduli terhadap sesama di sekitar saya.




