Aku Tak Setabah Hujan Juni

in STEEM FOR INDONESIAyesterday

IMG_20240608_135934.jpg

Hujan turun perlahan, seolah mengerti bahwa ada hati yang sedang belajar bertahan. Di bawah langit yang kelabu, seorang pemuda berdiri tanpa payung, membiarkan setiap tetes air membasahi wajahnya hingga sulit dibedakan mana hujan, mana air mata. Bibirnya bergerak lirih, berbisik kepada hujan seperti sedang mengirimkan pesan kepada seseorang yang tak lagi bisa disentuh. "Aku rindu," ucapnya berulang kali. Rindu yang terlalu lama dipendam ternyata lebih berat daripada hujan yang mengguyur bumi. Orang-orang mengira ia sedang menikmati hujan, padahal sesungguhnya ia sedang tenggelam dalam kenangan yang tak pernah benar-benar pergi.

Ia pernah meyakinkan dirinya bahwa dialah lelaki paling tabah di dunia. Bukan karena hidupnya mudah, melainkan karena setiap hari ia memaksa dirinya tersenyum di atas luka yang terus bernapas. Berkali-kali ia berkata, "Kadang aku lebih tabah daripada hujan di bulan Juni." Namun kalimat itu selalu berakhir dengan senyum yang patah. Sebab hujan di bulan Juni, seperti dalam puisi yang pernah dibacanya, sanggup menyembunyikan rintik rindunya kepada pohon berbunga. Sementara dirinya gagal. Rindu itu selalu menemukan jalan keluar—melalui tatapan matanya yang kosong, melalui napasnya yang berat, melalui namamu yang tak pernah berhasil ia hapus dari setiap doa.

Semakin lama ia menyadari bahwa hujan ternyata jauh lebih bijaksana darinya. Hujan datang tanpa meminta untuk dikenang, lalu pergi tanpa memaksa siapa pun menunggu. Bahkan ia mampu menghapus jejak-jejak kakinya yang ragu-ragu di jalan yang telah dilewatinya. Tetapi ia tidak. Setiap sudut kota masih menyimpan bayanganmu. Bangku taman tempat kalian tertawa, aroma kopi di kafe kecil itu, jalan yang pernah kalian susuri sambil menggenggam harapan—semuanya masih utuh di dalam dadanya. Waktu berjalan terus, tetapi kenangan memilih menetap, menjadikan hatinya rumah yang tak pernah sempat ditinggalkanmu.

Sering kali ia berharap hujan membawa namamu kembali, meski hanya sebentar. Ia ingin sekali bertanya apakah di suatu tempat yang jauh, kau pernah merasakan rindu yang sama. Apakah ketika hujan turun, kau juga berhenti sejenak dan membiarkan kenangan itu menyelinap di sela-sela napasmu. Namun tak pernah ada jawaban selain gemericik air yang jatuh ke tanah. Saat itulah ia mengerti bahwa cinta yang paling menyakitkan bukanlah cinta yang ditolak, melainkan cinta yang tetap hidup, meski dua hati telah dipisahkan oleh takdir yang tak dapat ditawar.

Malam itu hujan akhirnya reda. Langit perlahan membuka dirinya, menyisakan aroma tanah basah yang menenangkan. Pemuda itu mengangkat wajahnya, membiarkan angin terakhir mengeringkan pipinya. Ia tersenyum, tetapi senyum itu lahir dari hati yang telah remuk berkali-kali. Kini ia tahu, rindu memang tidak selalu harus sampai kepada orang yang dirindukan. Kadang rindu hanya ingin tinggal, menjadi doa yang tak pernah selesai, menjadi cinta yang tak pernah meminta balasan. Dan di antara sunyi yang panjang, ia akhirnya memahami satu hal: bukan hujan yang paling pandai menyimpan rahasia, melainkan hati yang tetap memilih mencintai, meski tahu tak akan pernah lagi dipeluk oleh orang yang sama.